Rabu, 02 Mei 2012

Sejenka Bijak: HUKUM TRUK SAMPAH


Suatu hari saya naik sebuah taxi dan menuju ke Bandara. Kami melaju pada jalur yang benar ketika tiba-tiba sebuah mobil hitam melompat keluar dari tempat parkir tepat di depan kami. Supir taxi menginjak pedal rem dalam-dalam hingga ban mobil berdecit dan berhenti hanya beberapa cm dari mobil tersebut.


Pengemudi mobil hitam tersebut mengeluarkan kepalanya &mulai menjerit ke arah kami. Supir taxi hanya tersenyum & melambai pada orang orang tersebut. Saya benar-benar heran dengan sikapnya yang bersahabat. Maka saya bertanya, "Mengapa anda melakukannya? Orang itu hampir merusak mobil anda dan dapat saja mengirim kita ke rumah sakit!" Saat itulah saya belajar dari supir taxi tersebut mengenai apa yang saya kemudian sebut "Hukum Truk Sampah".
Ia menjelaskan bahwa banyak orang seperti truk sampah. Mereka berjalan keliling membawa sampah, seperti frustrasi, kemarahan, kekecewaan. Seiring dengan semakin penuh kapasitasnya, semakin mereka membutuhkan tempat untuk membuangnya, & seringkali mereka membuangnya kepada anda. Jangan ambil hati, tersenyum saja, lambaikan tangan, berkati mereka, lalu lanjutkan hidup.


Jangan ambil sampah mereka untuk kembali membuangnya kepada orang lain yang anda temui, di tempat kerja, di rumah atau dalam perjalanan. Intinya, orang yang sukses adalah orang yang tidak membiarkan "truk sampah" mengambil alih hari-hari mereka dengan merusak suasana hati.

Hidup ini terlalu singkat untuk bangun di pagi hari dengan penyesalan, maka:
Kasihilah orang yang memperlakukan anda dengan benar, berdoalah bagi yang tidak.
Hidup itu 10% mengenai apa yang kau buat dengannya dan 90% tentang bagaimana kamu menghadapinya.
Hidup bukan mengenai menunggu badai berlalu, tapi tentang bagaimana belajar menari dalam hujan.


************ ********* ********* ********* ********* ********* 

(From: Dr.-Ing. Tonny Hartono Soediamto )

Selasa, 01 Mei 2012

Renungan: MELIBATKAN ALLAH


Bacaan: Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.


Ungkapan ‘melibatkan Allah' sudah tidak asing lagi bagi orang percaya. ‘Melibatkan Allah dalam segala perkara', ‘melibatkan Allah dalam rumah tangga', ‘melibatkan Allah dalam pekerjaan' dan masih banyak lagi kalimat serupa itu. Apakah artinya? Tentu kita berharap Allah ‘turut bekerja' dalam setiap aspek kehidupan kita bukan? Namun coba direnungkan sejenak, siapakah yang aktif (melibatkan) dan siapakah yang pasif (dilibatkan)?


Seringkali yang terjadi terbalik. Ada kesan bahwa Allah menjadi pihak yang pasif, menunggu giliran untuk bertindak. Itupun kalau kita mengizinkan Dia bertindak, padahal sesungguhnya Dia berdaulat atas hidup kita. Dia berkuasa melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Kalau bukan atas izin Allah, kita tidak dapat melakukan apapun. Kebebasan kita mengambil keputusan hanya ada karena Dia yang mengizinkan.


Ketika kita ingin ‘melibatkan Dia' dalam setiap langkah hidup kita adalah terbaik jika disertai dengan sikap berserah dan patuh. Memutuskan untuk patuh dan taat di bawah kendali Allah bergantung sepenuhnya kepada keputusan dan rencana-Nya, dan menantikan apa yang hendak dinyatakan-Nya kadang tidak semudah yang dibayangkan. Tapi mari belajar bahwa bukan lagi kita yang berhak menentukan apakah Dia boleh turut bekerja atau tidak, tapi menyerahkan semuanya kepada Allah.


Atas kehendak Allah sendiri, Ia selalu terlibat dan aktif bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi orang percaya.


TUHAN memberkati!